keberhasilan brand

Peranan Survei dalam Mengukur Keberhasilan Sebuah Brand

Pendahuluan

Di era persaingan pasar yang semakin ketat dan digitalisasi yang merata, keberhasilan sebuah brand tidak lagi semata diukur dari seberapa besar angka penjualannya. Brand yang sukses adalah brand yang mampu menciptakan persepsi positif, loyalitas konsumen, serta relevansi emosional dengan target audiensnya. Dalam konteks ini, survei brand menjadi alat krusial untuk mengukur dan mengevaluasi keberhasilan tersebut secara objektif dan terstruktur.

Apa Itu Survei Brand?

Survei brand adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk memahami persepsi, kesadaran, loyalitas, asosiasi, dan kepuasan konsumen terhadap suatu merek. Survei ini dapat dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif, dan hasilnya memberikan gambaran menyeluruh mengenai posisi merek di mata pasar.

Menurut laporan Statista (2024), 78% perusahaan global dengan nilai merek di atas USD 1 miliar secara aktif melakukan survei brand minimal dua kali dalam setahun.

Mengapa Survei Penting dalam Menilai Keberhasilan Brand?

1. Mengukur Brand Awareness (Kesadaran Merek)
Survei brand membantu mengidentifikasi:
– Top of Mind Awareness
– Aided vs Unaided Awareness

Data: Menurut Nielsen Global Brand Report 2023, brand dengan top-of-mind awareness lebih dari 60% memiliki peluang pembelian 2,3 kali lebih besar dibanding kompetitor.

2. Menilai Brand Perception (Persepsi Merek)
Studi oleh Ipsos pada 2023 menunjukkan 73% konsumen memilih produk yang ‘merek-nya terasa terpercaya’, meskipun harganya lebih tinggi.

3. Mendeteksi Brand Loyalty dan Net Promoter Score (NPS)
Fakta: Menurut Bain & Company, perusahaan dengan skor NPS tinggi memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan 2 kali lipat dibanding yang memiliki skor rendah.

4. Memahami Brand Association (Asosiasi Merek)
Studi Millward Brown (2022) menunjukkan bahwa asosiasi merek yang konsisten meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran hingga 27%.

Metode Survei Brand yang Paling Efektif

– Kuesioner Online
– Wawancara Mendalam (In-Depth Interview)
– Focus Group Discussion (FGD)
– Social Listening & Sentiment Analysis

Contoh: Brand Nike secara aktif memantau percakapan Twitter dan Instagram untuk melihat sentimen publik pasca-peluncuran kampanye ‘Just Do It’.

Kasus Nyata: Keberhasilan Brand Melalui Survei

Case Study: Tokopedia (Indonesia)
Tokopedia secara konsisten melakukan survei brand awareness setiap kuartal. Hasil survei pada 2022 menunjukkan bahwa awareness Tokopedia di kalangan Gen Z meningkat 18% setelah kampanye #WaktuIndonesiaBelanja. Berdasarkan data dari YouGov BrandIndex, Tokopedia mengalami peningkatan ‘Purchase Intent Score’ sebesar 21 poin dalam 6 bulan.

Kesalahan Umum dalam Melakukan Survei Brand

  1. Tidak menyesuaikan pertanyaan dengan target audiens
  2. Menggunakan skala yang membingungkan
  3. Frekuensi survei terlalu jarang
  4. Tidak menindaklanjuti hasil survei dengan strategi nyata

Data Terkini: Dampak Survei Brand terhadap ROI

Menurut Harvard Business Review (2023):
– 68% CMO yang menggunakan survei brand secara berkala melaporkan peningkatan ROMI sebesar 15–25%
– Survei brand yang dikombinasikan dengan analitik digital menghasilkan pengambilan keputusan pemasaran 2 kali lebih cepat dan lebih tepat.

Kesimpulan

Survei brand bukan hanya alat pengumpulan opini, tetapi kompas strategis untuk menavigasi keputusan bisnis. Brand yang secara aktif melakukan survei dan menindaklanjutinya dengan strategi nyata akan lebih adaptif dan unggul.

Pesan Penutup:

Mendengarkan suara pelanggan adalah investasi, bukan beban. Survei adalah jembatan menuju merek yang dicintai dan dipercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top