Wisata Lebaran Masih Menjadi Gaya Hidup Keluarga Urban

Libur Lebaran selama ini identik dengan tradisi mudik dan silaturahmi keluarga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada satu fenomena baru yang semakin terlihat di kalangan masyarakat urban: menjadikan momentum Idulfitri sebagai kesempatan untuk berwisata bersama keluarga. Survei online terhadap 595 ibu-ibu muslim pengguna Instagram berusia 25–45 tahun di wilayah Jabodetabek pada 2026 menunjukkan bahwa wisata Lebaran kini bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup keluarga muda di perkotaan.

Temuan survei tersebut memperlihatkan pola yang cukup jelas tentang bagaimana keluarga urban merencanakan libur Lebaran mereka—mulai dari durasi perjalanan, waktu keberangkatan, pilihan destinasi, hingga alokasi anggaran. Gambaran ini sekaligus menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang penting bagi industri pariwisata nasional.

Salah satu temuan paling menarik adalah mengenai durasi liburan. Hampir setengah responden (46 persen) menyatakan bahwa mereka mengalokasikan waktu 5–7 hari untuk libur Lebaran bersama keluarga. Sementara itu, 24 persen memilih durasi 8–10 hari, 21 persen menghabiskan 3–4 hari, dan hanya 9 persen yang berlibur lebih dari 10 hari.

Pola ini mencerminkan realitas kehidupan keluarga urban yang masih terikat pada jadwal kerja dan kalender sekolah anak. Durasi 5–7 hari menjadi pilihan paling realistis karena memungkinkan keluarga tetap menjalankan tradisi Lebaran bersama kerabat sekaligus menikmati waktu rekreasi.

Selain durasi, waktu keberangkatan juga menjadi indikator menarik dari perubahan perilaku masyarakat. Sebanyak 50 persen responden memilih berangkat berlibur setelah Lebaran, sementara 28 persen berangkat sebelum Lebaran dan 22 persen saat hari raya.

Angka ini memperlihatkan bahwa mayoritas keluarga masih menempatkan momen Idulfitri sebagai waktu utama untuk silaturahmi. Aktivitas wisata cenderung dilakukan setelah rangkaian kunjungan keluarga selesai. Dengan kata lain, wisata Lebaran kini lebih diposisikan sebagai fase kedua dari rangkaian perayaan Idulfitri.

Bagi pelaku industri pariwisata, pola ini memiliki implikasi penting. Periode ramai wisata ternyata tidak hanya terjadi sebelum Lebaran, tetapi juga pada pekan setelah hari raya. Hal ini membuka peluang bagi destinasi wisata dan pelaku usaha hospitality untuk mengembangkan strategi promosi yang lebih tepat waktu.

Dari sisi lokasi perjalanan, survei ini juga memperlihatkan kecenderungan yang cukup dominan. Sebanyak 69 persen responden memilih berlibur ke luar kota, sementara 23 persen menghabiskan waktu di dalam kota, dan hanya 8 persen yang memilih berlibur ke luar negeri.

Pilihan yang condong pada destinasi domestik ini menunjukkan bahwa wisata dalam negeri masih memiliki daya tarik yang kuat bagi keluarga Indonesia. Selain faktor biaya yang relatif lebih terjangkau, destinasi domestik juga dianggap lebih praktis untuk perjalanan keluarga yang membawa anak-anak.

Di tengah berbagai pilihan destinasi, pantai masih menjadi primadona. Sebanyak 31 persen responden memilih pantai sebagai tujuan liburan Lebaran. Disusul oleh pegunungan (26 persen), taman bermain (21 persen), pusat perbelanjaan (14 persen), serta berbagai pilihan lain seperti wisata kuliner, desa wisata, dan wisata religi (8 persen).

Dominasi pantai dan pegunungan mencerminkan kebutuhan masyarakat urban untuk “melarikan diri” sejenak dari hiruk-pikuk kota. Destinasi alam menawarkan pengalaman relaksasi yang sulit didapatkan dalam kehidupan sehari-hari di kota besar.

Sementara itu, taman bermain tetap menjadi pilihan penting bagi keluarga yang membawa anak-anak. Kehadiran berbagai theme park dan water park di sejumlah kota wisata turut memperkuat daya tarik segmen ini.

Menariknya, survei ini juga memperlihatkan bahwa tempat menginap selama libur Lebaran masih sangat dipengaruhi oleh faktor kekeluargaan. Sebanyak 44 persen responden menyatakan bahwa mereka biasanya menginap di rumah orangtua atau kerabat. Sementara itu, 32 persen memilih hotel, 18 persen villa, dan 6 persen memilih alternatif lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perjalanan Lebaran masih memiliki dimensi sosial yang kuat. Banyak keluarga yang menggabungkan kegiatan silaturahmi dengan agenda wisata. Menginap di rumah kerabat tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga yang menjadi inti dari perayaan Idulfitri.

Namun demikian, angka 32 persen untuk hotel dan 18 persen untuk villa juga menunjukkan adanya pasar yang signifikan bagi industri akomodasi. Terutama bagi keluarga kelas menengah yang menginginkan kenyamanan lebih selama liburan.

Dari sisi pengeluaran, mayoritas responden mengalokasikan anggaran antara Rp5 juta hingga Rp10 juta untuk libur Lebaran. Kelompok ini mencapai 49 persen dari total responden. Sementara itu, 27 persen menyiapkan anggaran di bawah Rp5 juta, dan 24 persen mengalokasikan lebih dari Rp10 juta.

Angka ini memberikan gambaran bahwa wisata Lebaran telah menjadi pos pengeluaran yang cukup serius dalam anggaran keluarga. Dengan rata-rata alokasi Rp5–10 juta, potensi perputaran ekonomi dari aktivitas wisata Lebaran sebenarnya sangat besar.

Jika pola ini diekstrapolasi ke populasi keluarga kelas menengah di kota-kota besar, total belanja wisata Lebaran dapat mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Dampaknya tentu tidak hanya dirasakan oleh sektor pariwisata, tetapi juga transportasi, kuliner, retail, hingga ekonomi kreatif di berbagai daerah.

Bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata, temuan survei ini menyimpan beberapa pesan penting. Pertama, pasar wisata keluarga urban terus berkembang dan semakin matang. Mereka memiliki preferensi yang jelas mengenai waktu perjalanan, jenis destinasi, dan tingkat pengeluaran.

Kedua, momentum setelah Lebaran merupakan periode emas yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal oleh banyak destinasi wisata. Promosi yang tepat pada periode ini dapat meningkatkan tingkat kunjungan secara signifikan.

Ketiga, destinasi berbasis alam seperti pantai dan pegunungan masih memiliki daya tarik paling kuat. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan infrastruktur wisata agar tetap mampu menarik wisatawan domestik.

Keempat, segmen keluarga dengan anak-anak menjadi pasar yang sangat potensial. Destinasi yang menyediakan fasilitas ramah keluarga—mulai dari taman bermain hingga aktivitas edukatif—akan memiliki keunggulan kompetitif.

Pada akhirnya, survei ini memperlihatkan bahwa wisata Lebaran kini telah berkembang menjadi fenomena sosial sekaligus ekonomi. Bagi banyak keluarga urban, libur Idulfitri tidak lagi hanya tentang pulang kampung, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman bersama keluarga.

Di tengah ritme kehidupan kota yang semakin cepat, perjalanan singkat ke pantai, pegunungan, atau taman bermain menjadi cara bagi keluarga untuk mengisi kembali energi dan mempererat hubungan.

Dengan kata lain, wisata Lebaran bukan sekadar tren musiman. Ia telah menjelma menjadi bagian dari budaya baru masyarakat urban Indonesia. (Mohamad Hendy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top