Di tengah hiruk pikuk ekonomi perkotaan yang terus bergerak cepat, ada satu fakta yang mulai mengemuka dari dapur-dapur rumah tangga kelas menengah: kemampuan menabung semakin tergerus. Survei online terhadap 500 ibu rumah tangga pengguna Instagram di wilayah Jabodetabek usia 35–45 tahun menunjukkan gambaran yang cukup mencemaskan mengenai kondisi keuangan keluarga urban pada tahun 2026.
Temuan paling mencolok dari survei ini adalah bahwa 54% responden mengaku kemampuan menabung mereka menurun dalam satu tahun terakhir. Hanya 17% yang merasa kemampuan menabung meningkat, sementara 29% menyatakan relatif stabil. Angka ini mengindikasikan tekanan ekonomi rumah tangga yang semakin nyata di kota-kota besar.
Penurunan kemampuan menabung tersebut tidak berdiri sendiri. Data survei memperlihatkan bahwa mayoritas keluarga hanya mampu menabung kurang dari 10% dari pendapatan rumah tangga. Rinciannya, sebanyak 28% responden menyatakan hanya dapat menabung kurang dari 5% dari penghasilan bulanan keluarga, sementara 37% lainnya menabung di kisaran 5–10%. Hanya 23% yang mampu menabung 11–20%, dan lebih kecil lagi—sekitar 12%—yang dapat menyisihkan lebih dari 20% pendapatan.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ruang fiskal rumah tangga kelas menengah semakin sempit. Dalam teori perencanaan keuangan keluarga, idealnya rumah tangga dapat menabung minimal 20% dari pendapatan. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga bahkan belum mencapai separuh dari angka tersebut.
Inflasi Dapur Rumah Tangga
Ketika ditelusuri lebih jauh, penyebab utama sulitnya menabung ternyata sangat jelas. Sebanyak 41% responden menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok sebagai alasan utama. Kenaikan harga bahan makanan, beras, minyak goreng, hingga sayuran menjadi tekanan paling nyata bagi pengelolaan keuangan rumah tangga.
Temuan ini semakin diperkuat oleh pertanyaan lain dalam survei yang menunjukkan bahwa 62% responden merasa kenaikan harga kebutuhan pokok sangat memengaruhi kemampuan mereka menabung, sementara 27% menyatakan cukup memengaruhi. Dengan kata lain, hampir sembilan dari sepuluh keluarga merasakan dampak langsung inflasi pangan terhadap tabungan mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa inflasi pada sektor kebutuhan dasar memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding inflasi umum. Ketika harga kebutuhan pokok naik, ruang fleksibilitas anggaran rumah tangga langsung menyempit.
Pendidikan Anak: Prioritas Utama
Selain kebutuhan pokok, survei juga mengungkap pos pengeluaran terbesar dalam anggaran keluarga. Sebanyak 34% responden menyebut pengeluaran makanan dan kebutuhan rumah tangga sebagai komponen terbesar, diikuti oleh biaya pendidikan anak sebesar 26%.
Pendidikan anak memang selalu menjadi prioritas utama bagi keluarga kelas menengah Indonesia. Biaya sekolah, les tambahan, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kebutuhan digital untuk pembelajaran semakin meningkat setiap tahun. Tidak mengherankan jika pos ini menjadi salah satu faktor yang mengurangi kemampuan keluarga untuk menabung lebih besar.
Pos pengeluaran besar lainnya adalah cicilan rumah atau kendaraan yang mencapai 21%, diikuti transportasi 11% dan gaya hidup 8%. Struktur pengeluaran ini menggambarkan karakter khas keluarga urban: kebutuhan dasar dan pendidikan menyerap sebagian besar pendapatan.
Dana Darurat Masih Minim
Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah terkait kesiapan finansial menghadapi kondisi darurat. Dalam survei ini, 69% responden mengaku belum memiliki dana darurat yang cukup untuk kebutuhan hidup selama tiga hingga enam bulan.
Padahal dalam prinsip perencanaan keuangan, dana darurat merupakan fondasi stabilitas finansial keluarga. Tanpa dana cadangan, rumah tangga akan sangat rentan terhadap risiko seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kejadian tak terduga lainnya.
Fakta bahwa hanya sekitar tiga dari sepuluh keluarga yang memiliki dana darurat menunjukkan bahwa banyak rumah tangga kelas menengah masih berada dalam kondisi finansial yang relatif rapuh.
Menabung Masih Lebih Populer dari Investasi
Menariknya, survei ini juga menyingkap preferensi finansial ibu rumah tangga terkait pengelolaan uang. Ketika diminta memilih antara menabung atau investasi, 57% responden memilih menabung, sementara 43% memilih investasi.
Preferensi ini menunjukkan bahwa pendekatan finansial keluarga masih cenderung konservatif. Tabungan dianggap lebih aman, mudah dipahami, dan tidak berisiko dibanding instrumen investasi yang sering dipersepsikan rumit.
Padahal dalam kondisi inflasi yang terus meningkat, menabung saja sering kali tidak cukup untuk menjaga nilai uang dalam jangka panjang. Tanpa investasi, daya beli tabungan dapat tergerus secara perlahan.
Jika Pendapatan Naik
Survei ini juga mengajukan pertanyaan hipotetis: apa yang akan dilakukan jika pendapatan rumah tangga meningkat?
Jawaban responden menunjukkan pola yang cukup menarik. Sebanyak 38% mengatakan mereka akan menambah tabungan, sementara 27% memilih memprioritaskan pendidikan anak. Sebanyak 16% menyatakan akan mulai berinvestasi, diikuti 11% yang ingin menggunakan dana tambahan untuk liburan keluarga dan 8% untuk meningkatkan gaya hidup.
Temuan ini menegaskan bahwa meskipun tekanan ekonomi meningkat, pola pikir finansial keluarga masih relatif rasional. Mayoritas responden tidak langsung mengarah pada konsumsi, melainkan pada penguatan keamanan finansial dan masa depan anak.
Sinyal bagi Dunia Bisnis
Bagi pelaku bisnis dan pembuat kebijakan, hasil survei ini memberikan beberapa sinyal penting. Pertama, kelas menengah urban semakin sensitif terhadap harga. Produk dengan nilai ekonomis yang jelas akan lebih mudah diterima pasar dibanding produk premium tanpa diferensiasi yang kuat.
Kedua, kategori produk yang berkaitan dengan keluarga dan anak masih memiliki potensi besar, terutama pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.
Ketiga, meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya tabungan membuka peluang bagi industri keuangan untuk menghadirkan produk yang lebih mudah dipahami oleh keluarga.
Di sisi lain, edukasi mengenai investasi juga masih sangat dibutuhkan, terutama untuk segmen ibu rumah tangga yang berperan sebagai pengelola utama keuangan keluarga.
Cermin Kondisi Ekonomi Urban
Secara keseluruhan, survei ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi finansial keluarga kelas menengah di kota besar Indonesia.
Di satu sisi, mereka masih memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menabung dan memprioritaskan masa depan anak. Namun di sisi lain, tekanan biaya hidup membuat ruang untuk menabung semakin sempit.
Fenomena ini sering disebut sebagai “middle class squeeze”—situasi ketika kelas menengah terjepit antara pendapatan yang tidak naik signifikan dan biaya hidup yang terus meningkat.
Jika tren ini terus berlanjut, maka kemampuan keluarga untuk membangun keamanan finansial jangka panjang dapat semakin tergerus.
Dan seperti yang tercermin dari dapur-dapur rumah tangga di Jabodetabek, alarm itu tampaknya sudah mulai berbunyi. (Mohamad Hendy)